5 Cara Jitu Lulus Ujian Ahli Kepabeanan

Kalau Anda bekerja di kantor eksportir/importir, freight forwarder, konsultan pajak, atau PPJK (pengusaha pengurusan jasa kepabeanan), tentu saja ini bukan hal istimewa. Ini malah basic requirement banget. Tapi kuliah saya dulu akuntansi. Saya juga belum pernah bekerja di bidang ini. Modal saya cuma pengetahuan dasar kepabeanan dan rasa penasaran akibat presentasi teman sekelas yang kerja di DJBC waktu kuliah dulu.

Yang menantang, tingkat kelulusannya konon hanya 5-6% saja. Jadi kalau ada seribu peserta dalam satu batch, yang lulus hanya 50-60 orang saja. Beberapa teman sesama peserta ujian bahkan saya jumpai sudah mencoba 2-3 kali, dan belum lulus juga. Ketika ujian, saya juga bertemu dengan orang-orang yang kalau dilihat dari wajahnya, usianya jauh di atas saya. Entah ini tes keberapa bagi mereka.

Alhamdulillah saya lulus pada percobaan pertama.

Jadi kalau Anda mahasiswa menjelang lulus yang punya keinginan kerja di bidang kepabeanan, atau pemula yang baru masuk industri dan belum punya modal skill sama sekali di bidang ini, jangan minder. Seperti saya, Anda juga punya kesempatan untuk lulus pada kesempatan pertama.

Bagaimana caranya? Berikut tipsnya.

1. Ikut Kursus Jasa Kepabeanan

Saya awalnya mengira belajar mandiri cukup untuk menghadapi ujian ini. Ternyata tidak. Ketentuan-ketentuan dalam UU Kepabeanan (baru di satu undang-undang ini saja) mengharuskan kita untuk merujuk ke berbagai peraturan turunannya, terutama peraturan menteri keuangan yang secara rutin diperbarui.

Belajar UU Kepabeanan secara mandiri menghabiskan waktu saya sekitar seminggu penuh. Itu pun nggak paham-paham. Melalui kursus, UU Kepabeanan dibahas dalam 1 pertemuan (5 jam) saja.

Oya, saya sudah minta bahan belajar materi dasar kepabeanan ke teman-teman saya yang bekerja di DJBC. Hasilnya nihil. Pengetahuan mereka sudah sangat spesifik di bidangnya masing-masing sehingga saya kesulitan memahami pokok-pokok kepabeanan yang biasanya diujikan dalam ujian Ahli Kepabeanan.

Kalau Anda sayang waktu Anda yang berharga, saya sangat merekomendasikan untuk ikut kursus ini.

Terus pada bimbel mana Anda perlu belajar? Fasilitas yang ditawarkan bimbel-bimbel tersebut sebenarnya tidak jauh berbeda. Materi, jumlah pertemuan, serta fasilitas pendukung yang kita peroleh kira-kira sama. Yang membedakan mungkin hanya pengajarnya. Maka dengan pertimbangan terakhir itu, berikut tiga lembaga kursus yang bisa Anda ikuti.

Tax Center UI

Saya ikut kursus di lembaga ini. Pengajarnya sebagian besar berasal dari Pusdiklat Kepabeanan dan Cukai Kementerian Keuangan dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Banyak di antara mereka juga aktif mengajar di PIC Training, sebuah lembaga diklat independen. Belakangan saya tahu bahwa program yang saya ikuti ini merupakan kerjasama dari Tax Center UI dan PIC Training.

Oya, Tax Center UI dan PIC Training menyediakan program online juga. Sangat cocok terutama bagi Anda yang tidak berdomisili di sekitar Jabodetabek. Saya sendiri punya teman sekelas yang tinggal di Pontianak.

Minusnya, tidak ada praktek pengisian PIB/PEB (Pemberitahuan Impor/Ekspor Barang) di program online ini. Hal ini karena pengajarnya merasa lebih mampu menyampaikan materi dalam bentuk tatap muka, bukan dalam format kuliah online.

LPP Widya Bhakti.

Sebagian pengajar LPP Widya Bhakti setahu saya adalah pensiunan DJBC dan tengah aktif sebagai kuasa hukum sekaligus konsultan bidang kepabeanan. Saya kenal secara pribadi dengan salah satu pengajar LPP Widya Bhakti, dan saya tahu sendiri reputasinya di bidang kepabeanan. Sangat sedikit yang bisa saya sampaikan (karena sifatnya sangat personal), tetapi portofolio pengajar di sini luar biasa. Kliennya tidak main-main.

Saya awalnya sangat ingin ikut kursus di sini, tapi telepon dan email saya tidak dibalas. Sepertinya untuk mendaftar, Anda harus datang sendiri ke kantornya (di Komplek Stadion Bea Cukai, Rawamangun, Jakarta).

Sayangnya, setahu saya LPP Widya Bhakti hanya membuka kelas offline di Pisangan Lama (belakang kantor pusat DJBC) dan di sekitar Kuningan, Jakarta. Tahun 2019 lalu, mereka membuka kelas malam (Senin-Jumat pukul 19.00 s.d. 21.30) dan kelas weekend (Sabtu-Minggu fullday).

2. Pahami struktur soalnya

Ujian terbagi jadi dua sesi. Sesi I untuk soal pilihan ganda, Sesi II untuk soal uraian.

Ada dua syarat terkait nilai agar Anda bisa lulus.

Pertama, nilai rata-rata dari dua sesi tersebut minimal 60.
Kedua, nilai minimal dari tiap sesi adalah 40.

Sesi I berisi 75 soal pilihan ganda yang harus dikerjakan dalam waktu 75 menit. Materinya meliputi seluruh ketentuan dalam UU Kepabeanan.

Sesi II berisi 5 soal uraian dengan waktu 75 menit. Dua soal terkait penghitungan kewajiban kepabeanan, tiga soal terkait klasifikasi barang. Soal terkait penghitungan kewajiban kepabeanan ini perlu dijawab dengan struktur baku tertentu, yang juga menambah alasan Anda untuk belajar lewat lembaga kursus saja.

Untuk menjawab soal di Sesi II, Anda diperkenankan membuka hardcopy Buku Tarif Kepabeanan Indonesia. Harap diperhatikan bahwa catatan-catatan Anda di buku ini harus sudah dihapus mengingat akan ada pemeriksaan terhadap buku ini sebelum ujian. Kalau panitia menemukan ada catatan-catatan itu, buku Anda akan diambil dan panitia tidak menyediakan buku pengganti.

3. Persiapkan diri sedekat mungkin dengan jadwal ujian

Kalau Anda kebetulan tidak sedang bekerja di bidang ini, ada kemungkinan Anda akan lupa materi yang sudah Anda pelajari. Maka saya sangat sarankan untuk kembali mempersiapkan diri sedekat mungkin dengan jadwal ujian. Ikuti tryout yang disediakan lembaga kursus Anda. Kerjakan lagi latihan-latihan soalnya.

Ujian dilaksanakan 3 kali setahun. Tapi di masa pandemi ini, jadwal ini bukan jadwal pasti. Jadi kapan pun ada pengumuman ujian, pastikan Anda bisa ikut serta.

4. Latihan soal, latihan soal, latihan soal

Waktu itu, saya tidak terlalu khawatir dengan soal hitungan karena saya langsung dapat logika berpikirnya sesaat setelah pengajarnya menjelaskan. Yang perlu Anda perhatikan mungkin printilan-printilan pengecualian dalam ketentuan kepabeanannya.

Tapi sebagian besar teman sekelas saya kesulitan di soal klasifikasi barang. Satu soal yang ditanyakan ke peserta sekelas bisa menghasilkan lima jawaban berbeda. Tidak ada cara lagi selain banyak-banyak latihan soal. Saya sampai juga mengerjakan latihan klasifikasi barang untuk ujian yang diselenggarakan WCO (World Customs Organization) untuk mengakrabkan diri dengan tipe soal ini.

Salah satu teknik latihan yang disarankan para pengajar kami adalah mencari HS code dari barang-barang di sekitar kita.

Lihatlah sekeliling Anda sekarang. Kalau Anda melihat botol minum plastik, botol minum beling, meja kayu jati, meja kayu plywood, kursi plastik, kursi alumunium, tempat sampah plastik, keramik, sepatu, kemeja, celana, rok, kerudung, makanan beku, daging mentah, sayur segar, sampai sapi peliharaan kakek Anda; cari saja HS code-nya.

Oya, membiasakan diri dengan pencarian HS code di buku BTKI ini penting karena waktu yang kita miliki cuma 75 menit untuk 5 soal. Kalau Anda tidak terbiasa membuka buku itu, agak repot nanti ketika ujian beneran.

Kenapa begitu? Karena buku BTKI itu tebalnya bukan main.

5. Tetap tenang!

Saya sempat nervous ketika melihat peserta lainnya. Saya teringat bahwa mereka ini orang-orang berpengalaman di bidangnya, tapi beberapa harus menjalani beberapa kali ujian.

Saran saya: Enyahkan pikiran-pikiran seperti itu, dan fokus pada persiapan Anda sendiri.

Ini bukan perlombaan untuk mengejar kuota tertentu. Seperti yang sudah disebutkan di atas, persyaratan kelulusannya adalah kalau nilai Anda memenuhi standar. Tidak peduli berapa pun nilai kompetitor Anda. Jadi santai saja.

Oya, untuk menghadirkan ketenangan itu, siapkan seluruh persyaratan administratif yang diminta peserta jauh-jauh hari. Jangan sampai ujian Anda dikacaukan dengan kerepotan memenuhi persyaratan administratif di menit-menit akhir. Selain itu, upayakan hadir 2 jam sebelum ujian dimulai agar Anda punya waktu ekstra untuk makan, minum, dan merilekskan diri.

Semoga sukses!

3 komentar untuk “5 Cara Jitu Lulus Ujian Ahli Kepabeanan”

  1. Halo, saya salah satu calon peserta ujian kepabeanan, mungkin kita bisa sharing terkait ujian kepabeanan, dan ada beberapa hal yang ingin saya diskusikan dengan penulis.
    apakah diijinkan? semoga mendapatkan respon, terima kasih.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *