keluarga

Cepat Puber, Tapi Terlambat Dewasa

Anda pasti pernah baca atau dengar Sobat Rahayu seperti yang ada di gambar berikut setidaknya sekali seumur hidup:

Beberapa intelektual muslim saya lihat sampai merasa perlu ngulik-ngulik penafsiran lain terkait usia Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika beliau menikah dengan Nabi. Kalau upaya itu dilakukan atas nama cinta pada Nabi, semoga ia bernilai kebaikan di sisi Allah.

Sayangnya, catatan para sejarawan muslim yang sudah cukup masyhur tidak menyimpulkan demikian. Yang masyhur memang Nabi menikahi Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika usianya belum 10 tahun dan baru berhubungan suami istri beberapa tahun kemudian.

Tapi apa itu berarti kita sampai perlu memandang rendah gaya hidup Nabi sebagai peradaban barbar, terbelakang, sehingga perlu dicerahkan oleh peradaban Barat?

Aduh, kalau Edward Said bisa baca kalimat di atas , mungkin dia bakal ketawa terbahak-bahak dari dalam kuburnya.

Ini 2 Tips buat Orang Tua Menghadapi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)

Suatu sore, beberapa ibu-ibu berkumpul di depan rumah saya dan bercerita bagaimana anak mereka belajar di masa pandemi.

Di tengah sengitnya argumen menentang pembelajaran jarak jauh, saya (melalui istri saya) menangkap dua keluhan terbesar yang para wali murid hadapi. Mari bahas satu-satu.

Guru sama sekali tidak memberikan pembelajaran

Yang kerap terjadi, guru hanya mengirimkan tautan menuju video Youtube untuk dipelajari siswa. Guru kemudian memutus komunikasi dengan para orang tua (atau setidaknya, sulit dihubungi) setelah memberikan tugas pada lembar kerja dari sekolah.

Orang tua, yang kerap kali sudah lupa apa saja pelajaran yang dulu dipelajari di bangku sekolah, kesulitan membimbing anak-anaknya. Beberapa di antara mereka juga punya bisnis rumahan sehingga sulit bagi mereka untuk fokus mendampingi putra-putrinya.

Praktis, anak-anak belajar sendirian.

Orang tua yang memiliki keluangan rezeki akhirnya mengirimkan anak-anaknya untuk “les matematika” di sore hari. Kadang, pengampunya adalah guru mereka sendiri di sekolah. Yang tidak punya kemewahan itu ya hanya bisa harap-harap cemas capaian akademik anaknya tidak terganggu.

Tak cukup sampai situ, beberapa guru berani mendongkrak nilai para siswa untuk memenuhi SKM (standar kompetensi minimal) para siswanya. Seorang wali murid sempat bilang pada istri saya, “Rapor anak-anak generasi pandemi ini ga bisa dipercaya semua,” sambil tersenyum getir.

Respon atas kebijakan pembelajaran jarak jauh ini juga cukup resisten. Kelompok orang tua siswa yang cukup vokal dan berpengaruh bahkan mampu memaksa sekolah tertentu untuk tetap menyelenggarakan pembelajaran tatap muka, tentu saja harus kucing-kucingan dengan petugas Dinas Pendidikan setempat.

Teman

Saya punya kebiasaan agak unik akhir-akhir ini: klik fitur memories di Facebook. Saya memang mulai jarang buka Facebook (saya sudah menghapus seluruh aplikasi media sosial dari ponsel saya), dan sekalinya buka ini saja yang biasanya saya lakukan.

Siang ini, Facebook mengingatkan saya pada post seseorang yang saya bagikan lagi delapan tahun lalu. Ini post tentang sejarah kerja dakwah Muhammadiyah beberapa dekade terakhir di Jawa Tengah. Sedikit sekali yang memberi reaksi pada unggahan itu. Dari yang sedikit itu, tercantum nama (sebut saja) Pak Kholis.

Saya jarang sekali menambahkan seseorang dalam pertemanan kecuali saya lihat orang itu lebih pintar atau lebih soleh sehingga saya bisa dapat manfaat dari unggahannya. Saya lupa kenapa persisnya saya menambahkan Pak Kholis sebagai teman, but he ticks all the boxes. Bacaannya luas, sikapnya moderat, tulisannya bernas, dan last but not least, ia seorang Islamis. Saya merasa kami bisa ngobrol lama soal banyak hal kalau kami punya kesempatan untuk ketemu.

Saya klik akunnya sambil bermaksud menyapa beliau di kolom komentar hanya untuk menjumpai bahwa post teratas di akun tersebut adalah sebuah obituari.

Pak Kholis meninggal tepat sepekan yang lalu karena stroke.

Jangan Ragu Menikah!

Tentu saja kaidah di atas digunakan ketika Anda sudah siap (nyaris) segalanya. Siap mental, siap ilmu, ada dana darurat untuk hidup kira-kira setahun, ada pasangan yang mau (ya iyalah), tapi ragu tersebab biaya untuk menjamu tamu.

Dalam Islam, rukun nikah (hal-hal yang harus dilakukan untuk memastikan keabsahan nikah) itu sederhana saja. Ada mempelai laki-laki, ada mempelai perempuan, ada wali, ada mas kawin, ada dua lelaki sebagai saksi, dan ada ijab qabul.

Sudah, itu saja.

Yang lain adalah bunga-bunga belaka untuk menghias feed instagram Anda.

Makanya beberapa orang yang saya kenal bercita-cita bikin resepsi yang sederhana saja. Diadakan di taman dengan 20-30 undangan saja: Keluarga inti, teman dekat, dan tetangga. Beberapa malah ingin menikahnya cukup di KUA saja, seperti Suhay Salim itu. Setelah itu bikin pengumuman lewat whatsapp, website, atau media lainnya bahwa kedua orang ini telah menikah. Yang penting tujuan menyiarkan pernikahan itu pada orang-orang sekitar kita tercapai.

Saya pun dulu pernah punya pikiran begitu.

Resepsi pernikahan dengan biaya ratusan juta (atau bahkan miliaran!) rupiah buat saya tidak berangkat dari pikiran logis. Bayangkan melihat uang sebanyak itu yang dikumpulkan dengan susah payah bertahun-tahun tiba-tiba lenyap, hilang tak berbekas (berbekas di foto aja sih), hanya dalam waktu satu hari.

Kerja bertahun-tahun dihapus resepsi sehari!

Lebih buruk lagi kalau pesta sehari itu dibiayai oleh utang. Jadi untuk memuaskan tamu (yang belum tentu juga peduli dengan hidup Anda) beberapa jam saja, Anda harus menanggung tumpukan utang (tentu saja dengan bunganya) di periode awal pernikahan Anda. Yang saya pelajari dari cerita teman-teman atau kolega di kantor, urusan uang ini bisa memancing pertengkaran sampai bikin rusak pernikahan.

Belum lagi kalau tamu yang Anda undang adalah orang-orang julid yang nemuuu aja hal-hal untuk dikomentari.

“Aduh makanannya asin banget ya bund.”
“Ih makeup-nya tebel banget kayak tembok cina.”
“Kok mau ya sama suaminya, buluk gitu.”
“Gosipnya sih cepet banget tuh lamaran sama pernikahannya. Jangan-jangan …”
“Ya ampun resepsi pernikahan sekali seumur hidup kok dekorasinya biasa banget sih.”

Enggak bun. Saya berencana menikah empat kali. Tks.