Ini 2 Tips buat Orang Tua Menghadapi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)

Suatu sore, beberapa ibu-ibu berkumpul di depan rumah saya dan bercerita bagaimana anak mereka belajar di masa pandemi.

Di tengah sengitnya argumen menentang pembelajaran jarak jauh, saya (melalui istri saya) menangkap dua keluhan terbesar yang para wali murid hadapi. Mari bahas satu-satu.

Guru sama sekali tidak memberikan pembelajaran

Yang kerap terjadi, guru hanya mengirimkan tautan menuju video Youtube untuk dipelajari siswa. Guru kemudian memutus komunikasi dengan para orang tua (atau setidaknya, sulit dihubungi) setelah memberikan tugas pada lembar kerja dari sekolah.

Orang tua, yang kerap kali sudah lupa apa saja pelajaran yang dulu dipelajari di bangku sekolah, kesulitan membimbing anak-anaknya. Beberapa di antara mereka juga punya bisnis rumahan sehingga sulit bagi mereka untuk fokus mendampingi putra-putrinya.

Praktis, anak-anak belajar sendirian.

Orang tua yang memiliki keluangan rezeki akhirnya mengirimkan anak-anaknya untuk “les matematika” di sore hari. Kadang, pengampunya adalah guru mereka sendiri di sekolah. Yang tidak punya kemewahan itu ya hanya bisa harap-harap cemas capaian akademik anaknya tidak terganggu.

Tak cukup sampai situ, beberapa guru berani mendongkrak nilai para siswa untuk memenuhi SKM (standar kompetensi minimal) para siswanya. Seorang wali murid sempat bilang pada istri saya, “Rapor anak-anak generasi pandemi ini ga bisa dipercaya semua,” sambil tersenyum getir.

Respon atas kebijakan pembelajaran jarak jauh ini juga cukup resisten. Kelompok orang tua siswa yang cukup vokal dan berpengaruh bahkan mampu memaksa sekolah tertentu untuk tetap menyelenggarakan pembelajaran tatap muka, tentu saja harus kucing-kucingan dengan petugas Dinas Pendidikan setempat.

Jadwal belajar anak berantakan

Tanpa aktivitas yang rutin, terjadwal, dan wajib dihadiri oleh para siswa, orang tua merasa kesulitan mengatur waktu anak-anak mereka di rumah. Saya kira para orang tua juga sebenarnya tidak keberatan dengan pembelajaran jarak jauh, asal setiap hari anak-anak mereka tetap belajar sesuatu.

Sayangnya realita kadang tak sejalan dengan impian. Beberapa anak nyaris selalu tidur lewat tengah malam demi game online yang ia dan teman-temannya tekuni. Para santri yang begitu disiplin akibat jadwal ketat dari pagi sampai malam selama di pesantren terlihat sekali kehilangan bimbingan para gurunya. Saya kadang melihat sendiri mereka asyik nongkrong dengan teman-teman sebayanya di waktu mereka biasanya sedang mengulang kembali hafalan Quran-nya di pesantren.

Boro-boro belajar sesuatu.

Tawaran solusi

Memaksa penyelenggaraan pembelajaran tatap muka tentu bukan sesuatu yang bijak. Cakupan vaksinasi untuk anak sekolah di daerah saya (sekitar Jabodetabek) belum sampai setengahnya. Artinya, risiko semakin beratnya keluhan saat tertular Covid juga semakin besar.

Dampak Covid varian Omicron memang konon lebih ringan ketimbang varian-varian sebelumnya. Tapi tetap ada risiko kolapsnya pelayanan kesehatan apabila kasus Covid mencapai puncaknya, seperti yang kita rasakan pada puncak kasus Delta tahun lalu.

Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, salah satu kekhawatiran terbesar dari suatu wabah adalah ketika fasilitas kesehatan tidak lagi mampu menampung jumlah pasien yang memerlukan penanganan khusus. Jangan sampai ada lagi kabar tetangga atau bahkan keluarga kita yang meninggal di rumah, tanpa sempat mendapatkan pertolongan di fasilitas kesehatan terdekat.

Oleh sebab itu, izinkan saya berbagi pengalaman mengantar anak-anak kami belajar di rumah.

1. Siapkan materi yang jauh lebih menarik dibanding pembelajaran tatap muka

Bagi banyak guru, kendala pembelajaran jarak jauh adalah sulitnya mereka memastikan fokus dan perhatian anak didiknya pada materi yang sedang diajarkan.

Solusinya tentu saja bukan dengan memberi mereka lebih banyak lembar kerja untuk diselesaikan.

Metode ini, selain tidak efektif dalam memberikan pemahaman pada siswa, juga berpotensi membuat mereka malas belajar dalam jangka panjang. Lha wong belajar tidak dikenalkan sebagai sesuatu yang fun, bagaimana bisa para siswa ini jadi semangat dan rajin belajar?

Guru perlu menyiapkan materi pembelajaran yang menarik dan kreatif. Dalam konteks pembelajaran jarak jauh, guru tidak perlu mengulang materi dari satu kelas ke kelas lainnya. Siswa dapat membaca sendiri materi pembelajaran (dapat disajikan dalam bentuk video atau rangkuman materi dalam format infografis), kemudian guru bertugas menjawab pertanyaan siswa pada jadwal-jadwal yang telah disediakan. Guru bisa menambahkan kuis di akhir sesi sebagai bahan assessment.

Sumber materinya juga sudah cukup berlimpah di internet. Beberapa bisa diambil dari platform belajar online seperti Khan Academy atau platform milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Beberapa lainnya bisa dikreasikan oleh guru dengan menjahit materi dari satu sumber dan referensi lainnya.

Jangan jadikan lembar kerja siswa sebagai satu-satunya metode pembelajaran jarak jauh. Saya yang sudah dewasa pun akan kesulitan mengerjakan soal-soal pada tema baru yang belum pernah diajarkan pada saya sebelumnya.

Jangan jadikan lembar kerja siswa sebagai satu-satunya metode pembelajaran jarak jauh.

Home-based education

Sokoguru pendidikan anak adalah rumahnya masing-masing. Ini bukan ajakan pada opsi homeschooling, tapi upaya untuk menyadarkan kita, para orang tua, bahwa tugas terbesar mendidik anak-anak sesungguhnya terletak pada kita, bukan guru di sekolah.

Toh, selama ini anak-anak kita menghabiskan waktu lebih banyak bersama kita dibandingkan dengan gurunya kan?

Maka orang tua tidak bisa berlepas diri dari pendidikan anak-anaknya dan menyerahkan urusan ini seluruhnya kepada para guru. Sayangnya, hal ini yang seringkali absen dari para orang tua yang saya temui.

Sebagian besar dari mereka menganggap, karena mereka sudah bayar uang sekolah maka tugas mengajar ini sudah jadi tanggung jawab para guru sepenuhnya. Kalau anak saya tidak berhasil menghafal Quran sesuai target, tidak memenuhi standar minimal nilai matematika, atau berperilaku melanggar norma, maka ini semua salah para gurunya!

Sebagian besar dari mereka menganggap, karena mereka sudah bayar uang sekolah, maka tugas mengajar ini sudah jadi tanggung jawab guru sepenuhnya.

Yang perlu disadari adalah kita sedang menghadapi masa-masa darurat. Kalau tidak ada pandemi, toh anak-anak kita tetap akan pergi ke sekolah juga. Tapi karena kita sedang menghadapi kondisi luar biasa, maka sikap yang perlu kita ambil harus luar biasa pula.

Tugas menyiapkan materi belajar anak yang dulu sepenuhnya ditanggung para guru, kini perlu mendapat supervisi dan masukan dari para orang tua. Tanggung jawab mendorong motivasi anak agar senang belajar juga kini lebih banyak jatuh ke pundak orang tua.

Yang paling menantang: Aturan penggunaan ponsel yang dulu hanya berlaku di sekolah, kini juga harus berlaku di rumah.

Saya melihat penggunaan ponsel oleh anak sekolah ini sudah kritis sekali kondisinya. Ponsel jadi salah satu faktor terbesar masalah kedisiplinan anak hingga kesiapan mereka untuk belajar. Salah satu tetangga saya malah sudah sampai pada taraf kecanduan dan harus mendapatkan pertolongan profesional dari dokter dan psikolog. Belum lagi risiko menyelinapnya konten pornografi yang mudah masuk ke gadget mereka.

Orang tua harus memiliki ketegasan untuk mengatur apa yang boleh, dan tidak boleh dilakukan anak-anaknya, tentu saja dengan cara yang bijak. Tidak menggunakan ponsel di usia dini tidak akan membuat kita gaptek kok. Toh Anda yang sekarang bekerja di bidang teknologi tidak menjumpai teknologi ini ketika Anda masih kecil kan?

Penutup

Akhirul kalam, nampaknya pembelajaran jarak jauh adalah opsi paling aman bagi kita saat ini. Melalui ikhtiar ini, kita tentu berharap pandemi segera usai.

Namun, opsi ini perlu diikuti inisiatif yang baik dari guru, sekolah, dan orang tua siswa. Kita perlu metode pembelajaran baru yang lebih menarik, kreatif, dan tetap efektif. Kita juga perlu mulai mengatur eksposur ponsel oleh anak-anak. Melalui upaya itu, kita berharap dampak pandemi terhadap capaian akademis anak-anak kita masih dalam batas yang bisa ditoleransi.

Selamat membersamai perjalanan belajar anak-anak ya, ayah bunda.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *