Mendidik Anak Tanpa Amarah

Beberapa waktu lalu saya menghadiri pengajian di masjid dekat rumah. Tajuknya “Mendidik Anak Tanpa Amarah”. Saya lupa siapa penceramahnya, tapi ada beberapa catatan yang penting untuk jadi refleksi saya sebagai orang tua.

Saya kira pengajian itu bermanfaat buat saya, semoga Anda juga mendapat manfaat yang sama.

Berikut ringkasan pengajian tersebut.

Tatap Anak-Anak Kita dengan Tatapan Kasih Sayang

Tarbiyah anak-anak adalah tugas berat, maka tugas ini harus diemban dua jagoan di rumah. Pendidikan anak bukan hanya tugas para ibu.

Ketika menghadapi perilaku menyimpang anak-anak, tarik nafas dalam-dalam dan tumpuk kesabaran sebanyak-banyaknya. Mari cari tahu, apa akar masalahnya?

Berdasarkan pengamatan saya (ustadz tersebut), sangat banyak perilaku menyimpang itu sampai pada mereka lewat perantara handphone.

Anak-anak kita saat ini sedang diuji dengan fitnah handphone, maka kasihani mereka. Anak-anak kita lahir ke dunia dalam fitrah. Lingkungannya yang membuat mereka melakukan kebaikan atau keburukan. Mari introspeksi, sudahkah kita memberikan lingkungan yang baik bagi anak-anak kita?

Pernahkah Anda baca sebuah riwayat shahih yang menyebutkan Nabi, teladan kita, marah-marah pada anak-anak? Maka kalau Anda mengaku mengikuti Nabi, tidak seharusnya marah-marah pada anak.

Marah pada anak-anak sejatinya adalah perkara sia-sia. Akal mereka belum sempurna. Apa sih yang Anda harapkan dari memarahi anak-anak Anda?

Ketika Ayah Bunda harus menghukum Ananda

Hukuman pada anak tidak boleh dilakukan dalam keadaan marah. Misal, memukul anak ketika ia tidak mendirikan shalat di usia 10 tahun.

Pemberian hukuman harus terkendali, apalagi kalau dilaksanakan dalam menegakkan sunnah Nabi. Nabi memang memerintahkan memukul anak 10 tahun yang tidak shalat. Tapi pernahkah Nabi menghukum seseorang karena marah?

Kemarahan melenyapkan akal sehat dan menghilangkan ukuran kewajaran dalam hukuman. Padahal, hukuman itu diberikan sebagai teguran dalam rangka tarbiyah. Oleh karena itu, tidak sembarang pukulan diperbolehkan.

Jauh sekali bedanya hukuman yang diberikan dalam rangka tarbiyah dan dalam rangka melampiaskan amarah.

Bagaimana Nabi berinteraksi dengan anak-anak?

Terdapat berbagai riwayat interaksi Nabi dengan anak-anak. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

Suatu hari di shalat jamaah, Hasan dan Husain menduduki punggung Nabi ketika beliau bersujud. Bagaimana sikap Nabi? Menunggu mereka berdua turun kemudian melanjutkan shalatnya.

Tidak ada amarah.

Suatu hari, makanan dihidangkan di hadapan Nabi. Salah seorang sahabatnya yang masih kecil meletakkan tangannya ke mana-mana di atas makanan. Menurut standar kita hari ini, perbuatan ini pun masih kita anggap jorok dan tidak sopan. Bagaimana sikap Nabi?

“Nak, baca bismillah, makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah dari yang terdekat,” ucap beliau.

Tidak ada amarah.

Pada kesempatan lain, Hasan bin ‘Ali makan kurma yang diserahkan seorang muzakki. Apa respon Nabi? “Keluarga Muhammad tidak makan harta zakat,” kata beliau.

Tidak ada amarah.

Ketiga peristiwa di atas mengajarkan kita bahwa respon pada kesalahan anak harus berupa ilmu, bukan amarah.

Ilmu, bukan amarah.

Dari mana amarah pada anak itu berasal?

Faktor terbesar kemarahan orang tua pada anak antara lain: tidak sesuainya perilaku anak-anak dengan harapan orang tuanya.

“Kenapa sih kamu nggak bisa anteng dan pinter kayak anaknya Pak Fulan?”

Bagaimana kalau dibalik, “Kenapa sih Ayah nggak sabar dan telaten mengurus anaknya seperti Pak Fulan?”

Ayah Bunda, akuilah kesilapan kita setelah memarahi anak. Segeralah bertaubat, teruslah bertaubat, setelah kesilapan itu muncul kembali.

Dahulukan kasih sayang dibanding kemarahan.

Belajar menurunkan ekspektasi

Barangkali salah satu cara tercepat mencegah amarah pada buah hati adalah dengan menurunkan ekspektasi. Mari terima bahwa sebagian kebandelan anak-anak kita boleh jadi karena harta haram yang kita bawa pulang. Mari berprasangka baik pada anak, bahwa anak-anak kita yang sekarang sulit diatur, mungkin jadi penegak agama Allah kala dewasa.

Ayah Bunda, bersabarlah sedikit saja. Kebutuhan kesabaran kita pada anak-anak kita tidak perlu sebesar kesabaran Nabi Nuh pada anaknya kan?

Tidak lama lagi, akan datang masa rindu memandikan anak, menggendong dia ke mana-mana, atau mengajari dan menemani mereka membaca.

Bersabarlah, karena ini cuma sebentar saja.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *